Aku terdiam melamun di ruang
kerja eksekutif kantor pusat X group ini sambil memandangi satu-satunya foto
masa SMA yang kumiliki. Saat ini, diperusahaan milik seorang Konglomerat
ternama di Nusantara itu aku menduduki jabatan yang begitu strategis, aku direktur
SDM, umurku tak lebih dari 29 tahun.
Di ruangan sebelah kiri dari
ruanganku adalah ruangan Direktur Utama group bisnis besar yang berkantor di
sebuah pencakar langit bilangan MH Thamrin, ia tak lain adalah ibu angkatku sendiri.
Orang memanggilnya Bu Siska,
nama lengkapnya Francisca Katherine S. Beliaulah yang sejak aku berumur 14
tahun mengangkatku sebagai anak dan mengantarkan aku pada kehidupan maha mewah
seperti saat ini. Umurnya sudah memasuki 47 sekarang, perawakannya bongsor, putih,
sedikit gemuk sesuai tinggi badannya yang 169cm.
Saat itu hari minggu pagi dan
aku baru saja menyelesaikan tugas dari beliau yang memang mendesak untuk
dikerjakan karena keesokannya ada recruitment cukup besar untuk sebuah pabrik
kami di Jababeka. Biasanya hari minggu kuisi dengan jalan-jalan bersama beliau,
tapi minggu ini kami semua sibuk dan beliau harus berada langsung kantor cabang
kami di Tangerang untuk mengawasi langsung persiapan kerja senin keesokannya.
Karyawanku di bagian SDM sudah kuperintahkan utk pulang setelah merampungkan
tugas-tugasnya. Jam menunjukkan pukul 10.30 WIB, tinggal aku sendiri
diruanganku yang luas ini, melamun membayangkan review perjalanan hidupku sejak
15 tahun yang lalu.
Rasanya aku hampir tak
mempercayai dengan umur yang dini ini hidupku begitu sesak dengan dinamika.
Terlahir dari sebuah keluarga miskin di propinsi kaya minyak bagian timur
Indonesia, Bapakku meninggal saat aku masih dalam kandungan, menyusul setahun
kemudian ibuku sakit keras dan meninggal, jadilah aku yatim piatu. Kakak
perempuanku yang mengasuhku waktu itu berumur 18 tahun menikah dengan seorang
PNS di propinsi itu yang mengasuh aku sejak bayi.
Aku tumbuh dalam keluarga
kakakku yang miskin juga, namun sukurlah kakakku mampu menyekolahkan adik-adik
dan anaknya hingga aku SMP. Setelah itu kakakku merasa bebannya terlalu berat
hingga aku diserahkan pada keluarga kaya Bu Siska yang pada waktu itu tinggal
di daerah sama.
Bu Siska dan Suaminya, pak
Jimmy, memang berasal dari daerah itu. Mereka punya perusahaan tambang yang
cukup berkembang hingga saat ini menjadi salahsatu yang terbesar di Indonesia
bahkan di dunia. Karena hanya memiliki dua anak yang semuanya perempuan, Bu
Siska dengan senang hati menerima aku untuk tinggal dan sekaligus menjadi
saudara angkat kedua anaknya, Rani dan Rina. Rani berumur sama denganku
sedangkan mbak Rina lebih tua 5 tahun.
Keluarga itu memang sangat
menginginkan anak laki-laki, namun oleh sebuah masalah kesehatan, Papa Jim
(begitu aku memanggil bapak angkatku)
tidak mampu lagi memberikan keturunan. Mbak Rina dan Rani juga sangat
menyayangiku. Kehadiranku ditengah keluarga mereka semakin membuat cerah
kondisi keluarga itu, hingga pada suatu saat tragedi keluarga (yang sebenarnya
menurutku adalah anugerah) itu terjadi.
Ketika aku dan Rani berusia 15
tahun, setamat dari SMP, keluarga itu memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Om
Jim memiliki beberapa rumah mewah di Menteng dan Pondok Indah. Bisnis keluarga
itu juga telah berkembang pesat hingga kebanyakan transaksinya harus dilakukan
di Jakarta. Sebelum itu, aku dan Rani sudah sering pula diajak dalam perjalanan
bisnis Bu Siska ke Jakarta.
Om Jim lebih sering bepergian
sendiri ke luar negeri sehingga aku dan Rani lebih dekat dengan Bu Siska
daripada dengan Om Jim, sedangkan Rina waktu itu sudah kuliah di London. Aku
dan Rani bersekolah di tempat yang sama di Jakarta, SMA di kawasan elite
Menteng tempat anak-anak pejabat tinggi negara dan konglomerat bersekolah. Aku
dan Rani dekat sekali, kami tidak saja merasa seperti saudara, tapi sudah lebih
jauh dari itu. Ia merasa aku pacarnya, sebaliknya aku juga merasa Rani adalah
pacarku.
Bu Siska tahu itu dan tak
pernah mempermasalahkannya. Ia mengerti, aku dan Rani tidak memiliki hubungan
darah, lagi pula keluarga itu sangat mengerti bahwa akau adalah anak yang baik.
Prestasiku di sekolah sangat bagus, tak pernah meleset dari rangking 1 yang
membuat mereka semua bangga padaku. Kalau di rumah aku lebih sering membaca
buku dan mengajari Rani pelajaran yang ia tidak mengerti dengan baik.
Kadang-kadang aku tertidur di kamar Rani yang berada persis di samping kamarku.
Lantai 3 rumah luas itu. Di luar kamarku juga ada teras yang menghadap kebun
belakang halaman rumah, aku dan Rani sering pacaran disana. Dan Bu Siska sering
menggoda kami dengan mengatai romeo dan juliet mabok!. Tapi ia tidak marah,
malah seringkali di waktu luangnya, Bu Siska membuatkan jajanan utk kami
berdua. Sesekali ia juga sempatkan untuk bergabung ngobrol maslah-masalah
ringan seputar study kami.
RANI, CINTA DAN SEKS PERTAMA
Aku ingat hari itu di bulan
November, aku dan Rani sedang berduaan di teras kamar Rani, kami ngobrol lepas
soal teman-teman centil kami di sekolah. Aku dan Rani waktu itu duduk di kelas
2 SMA, Rani jurusan Biologi dan aku di kelas Fisika. Rani duduk di pangkuanku,
aku memeluk sambil sesekali menciumi rambut hitam sebahunya dari arah belakang.
Say, kamu tadi ada di
perpustakaan ya tanyaku pada Rani, oh ya sejak dua tahun sebelumnya, aku mulai
memanggil Rani dengan sebutan sayang. Itu pula yang menyebabkan keluarga itu
menyebut kami Romeo & Juliet.
Iya, emang kenapa Kamu cemburu
jawabnya enteng, Ngga sih, hanya saja kalau aku yang begitu pasti udah
disemprot., Iya iy amaaf, aku ngga ngapain kok, Ia mendaratkan sebuah ciuman di
pipiku. Dan untuk pertama kali dalam hidupku aku membalas ciuman itu di
bibirnya, bukan ciuman tapi melumat. Hanya beberapa detik tapi cukup untuk
membuatnya gemas dan melotot penuh arti.
Selepas ciuman pertama itu ia
menatapku, tatapan serius yang cukup sulit untuk diartikan. Ada senyum
terbersit di bibir tipisnya namun warna muka yang berubah merah itu bisa
mengacaukan perasaan orang yang ditatapnya.
Kamu marah say aku mengeratkan
pelukan di pinggangnya. mmm.hhh, ia bangkit dan berbalik menghadap aku, tapi
kemudian memeluk. Ada beberapa titik air mata terasa menetesi belakang leherku.
Kulepaskan pelukan dan menatapnya, ah si cantik saudara angkatku, pacarku,
cantik sekali !
Kamu jahat, ia memberanikan
diri memelukku lagi. Kenapa sayaaaang aku jadi tidak mengerti
tadi kamu juga duduk bareng sama si Mira, aku lihat waktu jalan ke perpustakaan, kamu ngerayu dia kan Kamu ngga sayang aku lagi! Kamu jahat! ya ampuuun.sayanggitu aja dicemburuin.iiiihhh, kan dia cuman minta tolong ditulisin rumus kimia itu, aku membelai rambutnya.
tadi kamu juga duduk bareng sama si Mira, aku lihat waktu jalan ke perpustakaan, kamu ngerayu dia kan Kamu ngga sayang aku lagi! Kamu jahat! ya ampuuun.sayanggitu aja dicemburuin.iiiihhh, kan dia cuman minta tolong ditulisin rumus kimia itu, aku membelai rambutnya.
Sedekat itu untuk sekedar
nanya rumus Iyaiya aku minta maaf lagi deh, tapi sumpah demi Allah aku ngga ada
apa-apa ama dia, kucium lagi pipinya, terus ke bibir. mmmhhhh.benar ia
melepaskan lumatanku sambil merengek manja.
Beneerrsueeerrr!!! aku melumat
lagi, kali ini ada desiran geli di bawah sana. Sehari-hari aku memang sering
memeluknya, tapi kali ini terasa lain, ada gelora dan sayang yang lebih terasa.
Kami terus berciuman, melumat, tanganku masuk ke dalam bajunya yang berkancing
depan.
Boleh kataku meminta ijin.
He eh, Rani mengangguk lemah,
dan inilah pertama kali dalam hidupku merasakan penjelajahan tubuh wanita
dengan tanganku. Kancing pengait BH nya yang juga di depan itu kulepas dan
tergapailah bukit payudaranya yang cukup ranum. Rani memang memiliki payudara
besar seperti ibu dan kakaknya, mungkin secara genotip keluarga ini punya
bentuk payudara yang besar membusung.
Auuuhhhffff..sayaaangg.kamu
yakin ia menatapku sejenak untuk meyakinkan bahwa ini pasti akan lebih
jauh dari sekedar petting. Ini yang pertama bagi kami, aku menariknya ke kamar,
kami menuju tempat tidurnya yang luas. Ranilah yang lebih dulu melepas celana
pendekku, lalu baju kaus putih yang keukenakan, dan terakhir Cdku. Kini aku
bugil dihadapannya, Rani langsung mendekap
Aku pasrah sayang, sejenak ia
menghentikan eksplorasi itu, mencium pipi dan melumuri wajahku dengan lidahnya,
aku yakin kita memang dijodohkan untuk ini, dan hari ini, detik ini, jadilah
orang pertama yang., ia terdiam tak melanjutkan. Kemudian ia terduduk di
hadapanku. aku meloloskan daster tipis itu dari tubuhnya, lalu Cdnya, Bhnya dan
hmmm, saudara angkatku, pacarku, kekasihku, alangkah indahnya tubuhmu.
Untuk cinta kita, sayang, kamu
harus janji nggak akan ninggalin aku,
Aku bersumpah, sayang.., Dan
terjadilah peristiwa itu, pelan dan lembut sekali, Rani menghantarkan aku ke
daerah pangkal pahanya yang ternyata sudah banjir itu, dengan pasrah Rani
menyerahkan seluruh jiwa raganya untukku, aku juga mengakhiri keperjakaanku.
Penis ku yang baru kali ini merasakan hal itu otomatis mendorong masuk, Kami
sama-sama mabuk asmara. Dengan penuh kasih sayang kusetubuhi saudara angkatku
yang telah begitu baik padaku itu. Saat itu, dengan air mata berderai, diiringi
rintihan Rani dan cumbuanku, darah perawannya mengalir deras, aku jadi tak tega
pada awalnya.kenapa nangis sayang, kuhentikan gerakanku, penisku masih terbenam
dalam liang vagina yang baru saja tertembus penis untuk pertama kalinya itu.
Yang pelan aja sayang, punyaku
sakiiit banget, apa kita berhenti dulu jangan say, aku rela, aku bahagia bisa
mempersembahkan kehormatanku buat kamu, tangisnya terus mengalir seiring
kata-kata mesra itu. Aku yang tak tahan untuk terus berdiam, kugoyang perlahan
sambil terus mengecup bibir indahnya. iyyyaaahhhh
sayaaaangggoooouuuffff.pelaaan-pelaaaannyyyaaahhh uuhhhhff mulaienaaakkkhhh
ooouuhhh..aku sayang kamuuuuhhh, akuuuuhhh jugaaahhhh.
sayaaaangggoooohhhhhh,
kaaalaaauuuu sakiithhhh biiill aangg yaaaahhh sambil terengah-engah menikmati
goyanganku aku mencoba menjawab cumbuan kata-kata mesra dari bibir mungil itu.
Boleh aku diatas, yang
pintanya setelah beberapa saat aku menindihnya dengan gaya konvensional.
Iyaaahh sayang, ayo.
Kamu juga harus puas., kamu
masih lama, kan hk..ehh, kuangkat tubuhnya sambil merebahkan diriku ke samping,
kemaluan kami masih terpaut. Kini ia berada diatasku, mengangkang disana,
betapa menggairahkannya posisi ini kalau dilihat dari bawah, susunya
berayun-ayun mengundang tanganku menjamahnya, aku meremas, rani sudah tak
merasa sakit lagi. Ganti ia yang banyak mendesah, malah kini berteriak-teriak
histeris sambil menghempaskan pantatnya dengan keras, aku pasif saja
menikmatinya, hanya tangan dan bibirku terus memainkan payudaranya yang kencang
dan ranum itu. aku..uuuuoohhhmauuuhhhh saaaammmmaaahhh saaaammmpaaaaiiiioou
uuhhhh. aaaahhhhhkeluuuaaarrrr. Sayaaaaanggggg .hhhhhh, Rani menjerit keras,
diiringi dengan hempasan yang sangat kuat kearah pinggangku, penisku otomatis
menghujam keras dan mentok di dasar liang rahimnya.
Berdenyut disitu dan dengan
segala sisa tenaganya Rani menjambak rambutku, menunduk dan menyedot bibirku
keras, lalu pindah ke dadaku, ia menggigit disitu. aku
juuuugaaahhhhhh.keluuuaaarhhhhhh oooohhh..saaaayaaaanggg., jerit ku panjang
karena mendadak penisku seperti tersedot nikmat dalam vaginanya, tak dapat lagi
kutahan cairan spermaku meluncur dengan deras di dalam liangnya.
saaaaamaaahhhh.saaamaaa.saaayaaaangggggg aaaakuuu ngggaakkkk kuaaat lagiii
iiiihhhhh aaaaahhhhhhh, yessss.Raaaaaannnnnn.iiiiii.saaayaaaanggggg yaaaahhh,
Tergolek lemas kami berdua,
masih berpelukan, berebut mengambil nafas kepuasan yang terpancar di wajah kami
berdua. Rani Bahagia sekali. Dan dasar pemula, kami masih saling merangsang,
lagi dan lagi, seperti tak ada hari esok. Waktu merayap tak terasa selama 4 jam
lebih kami melakukannya. Sore hingga malam harinya kami saling tindih, saling
rengkuh, darah perawannya berceceran di sprei, di karpet dan di sofa. Akhirnya
kami
tertidur.
Sejak saat itu aku dan Rani
jadi semakin ketagihan, hubungan kami tak lagi seperti saudara, tapi lebih
sebagai suami istri. Di sekolah kami saling mengawasi, kasih sayang kami jadi
benar-benar tak bisa dipisahkan, walaupun kami masih melakukannya secara
sembunyi-sembunyi. Rupanya Bu Siska mengetahui perubahan pada diri anaknya,
namun tetap saja ia menyayangi kami berdua. Bahkan sesekali ia menyuruhku tidur
di kamar Rani saat ia tidak dirumah. Dan kalau kami makan bersama, Rani selalu
mengambilkan makanan dimeja itu untukku. Ia tak lagi canggung di depan
keluarganya, bahkan kini Papa Jim seringkali menyindirku dengan bertanya,
istrimu sehat, Gung maksudnya tak lain adlah anaknya sendiri si Rani. Kalau
bicara denganku Papa Jim memang lebih sering menggunakan terminologi istrimu
daripada anakku si Rani. Sewaktu dia mendapatkan lembar ulangan Rani yang buruk
nilainya malah dia langsung menelponku dengan mengatakan aduh Gung, gimana
istrimu itu, nilai kok hancur begitu. Ah beruntungnya aku. Tapi aku yakin,
keluarga itu tidak pernah tahu bahwa aku dan Rani sudah melakukan hubungan badan
layaknya suami istri. Mereka paling hanya melihat tingkah kami yang mesra itu
tanpa tahu sejauh mana hubungan kami.
Dua bulan setelah itu keluarga
itu mengalami ujian yang sangat berat. Dari Rani aku mengetahui rahasia
keluarganya yang sebelumnya gelap gulita bagiku. Ternyata Papa Jim memiliki
simpanan yang cukup banyak, perjalanan bisnisnya keluar negeri atau keluar
daerah selama ini hanya jadi kesempatan baginya untuk menjalin affair dengan
banyak wanita. Bu Siska sebenarnya sudah mengetahui semua itu sejak awal namun
ia tak kuasa begitu memikirkan keharmonisan keluarganya. Sebagai seorang ibu
yang mencintai keluarganya ia lebih mementingkan keutuhan rumahtangga daripada
ego pribadi kepada suaminya itu. Ternyata selama itu pula keluarga Bu Siska
menyembunyikan disharmoni keluarganya dariku, bahwa kemesraan antara Bu Siska
da Papa Jim hanya sandiwara untukku saja. Rani mengakui ia telah kehilangan
figur bapak pada diri papanya dan oleh karena itulah ia begitu mendambakan
saudara pria, dan begitu aku memasuki kehidupannya ia langsung menumpahkan
segala perasaan sayangnya kepadaku. Mbak Rina juga memutuskan utk study luar
negeri karena merasa muak dengan papanya, mereka bertiga sudah merasa tak lagi
memiliki ayah atau suami sejak mengetahui rahasia papanya itu.
Ternyata pula perusahaan besar
itu adalah milik keluarga Bu Siska, Papa Jim awalnya hanyalah seorang karyawan
disana yang karena pernikahannya dengan Bu Siska mendapat jabatan direktur.
Entah kenapa semenjak mengetahui cerita
tersebut dari Rani, aku jadi ikut-ikutan menjustifikasi Papa Jim. Kini ia tak
lebih baik dari seorang bajingan tengik yang tak tahu diri. Akhirnya pada bulan
itu juga, aku lupa tanggalnya, terjadi pertengkaran yang hebat antara Bu Siska
dan suaminya. Banyak kata-kata sumpah serapah yang keluar dari mulut Papa Jim,
sedang Bu Siska tampak lebih bisa menguasai diri. Tapi ujungnya mereka
memutuskan untuk bercerai dan Papa Jim tidak diperkenankan lagi menduduki
jabatan diperusahaan itu, alias dipecat!
Aku menghela nafas panjang
mendengar penuturan Rani, sore itu setelah semua hal yang berkaitan dengan
perceraian dan kepergian Papa Jim dari rumah itu, kami (aku, Rani dan Bu Siska
duduk santai di beranda belakang lantai dua rumah itu. Bu Siska segaja
membiarkan anaknya menuturkan semua rahasia itu padaku, ia hanya terdiam sambil
menyandarkan kepalanya di dadaku. Kami bertiga memang lebih akrab lagi sejak
peristiwa perceraiannya. Aku dan Rani sepakat untuk saling membantu menghibur
mamanya agar cepat melupakan kenangan buruk itu. Aku duduk berselonjor kaki di
lesehan empuk beranda itu, bersandar di tembok. Di pundak kananku ada kepala Bu
Siska sedang Rani tiduran dengan kepalanya diatas pahaku.
Tak ada perasaan apa-apa waktu
itu karena hal yang sangat lumrah bagi kami bertiga yang hampir tiap sore
curhat ditempat itu. Sampai kemudian Bu Siska menyuruh Rani agar masuk tidur
karena terlihat matanya yang sembab menahan tangis ketika bertutur tadi. Rani
pun mengiyakan dan beranjak ke kamarnya. Tinggal aku dan Bu Siska disana, ia masih
bersandar di bahuku, lama kelamaan mungkin karena pegal, ia pindah dan
berbaring di pahaku. Akupun sudah terbiasa dengan hal itu, kubelai rambutnya
yang sebahu, lebat dan hitam terawat. Keharuman tubuhnya menyeruak seketika ia
mengangkat tangannya membelai pipiku.
Gung., panggilnya pelan
sekali. Iya Bu, Ibu sayang sama kamu, ibu sudah menganggap kamu seperti anak
ibu sendiri,tangannya masih membelai pipi kiriku dengan lembut, terimakasih Bu,
Gung juga sangat sayang pada ibu, Mbak Rina dan Rani, Dan ibu juga ingin kamu
benar-benar menjaga Rani dengan baik,
TAMAT
